BENTANG ALAM KARST PDF

Pendahuluan Karst adalah istilah dalam bahasa Jerman yang diambil dari istilah Slovenian kuno yang berarti topografi hasil pelarutan solution topography Blomm, Menurut Jenning , dalam Blomm , topografi karst didefinisikan sebagai lahan dengan relief dan pola penyaluran yang aneh, berkembang pada batuan yang mudah larut memiliki derajat kelarutan yang tinggi pada air alam dan dijumpai pada semua tempat pada lahan tersebut. Flint dan Skinner mendefinisikan topography karst sebagai daerah yang berbatuan yang mudah larut dengan surupan sink dan gua yang berkombinasi membentukk topografi yang aneh peculiar topography dan dicirikan oleh adanya lembah kecil, penyaluran tidak teratur, aliran sungai secara tiba-tiba masuk kedalam tanah meninggalkan lembah kering dan muncul sebagai mata air yang besar. Dari sebaran batugamping yang ada, Indonesia merupakan wilayah yang potensial sebagai kawasan kars. Dari kondisi geologinya Indonesia kaya akan batugamping. Tetapi tidak semua batugamping yang ada diwilayah Indonesia dapat berkembang menjadi bentang alam kars.

Author:Zulujinn Zololrajas
Country:Cyprus
Language:English (Spanish)
Genre:Marketing
Published (Last):21 November 2017
Pages:200
PDF File Size:13.88 Mb
ePub File Size:8.70 Mb
ISBN:957-7-24032-948-5
Downloads:71237
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Tusida



Pendahuluan Karst adalah istilah dalam bahasa Jerman yang diambil dari istilah Slovenian kuno yang berarti topografi hasil pelarutan solution topography Blomm, Menurut Jenning , dalam Blomm , topografi karst didefinisikan sebagai lahan dengan relief dan pola penyaluran yang aneh, berkembang pada batuan yang mudah larut memiliki derajat kelarutan yang tinggi pada air alam dan dijumpai pada semua tempat pada lahan tersebut.

Flint dan Skinner mendefinisikan topography karst sebagai daerah yang berbatuan yang mudah larut dengan surupan sink dan gua yang berkombinasi membentukk topografi yang aneh peculiar topography dan dicirikan oleh adanya lembah kecil, penyaluran tidak teratur, aliran sungai secara tiba-tiba masuk kedalam tanah meninggalkan lembah kering dan muncul sebagai mata air yang besar.

Dari sebaran batugamping yang ada, Indonesia merupakan wilayah yang potensial sebagai kawasan kars. Dari kondisi geologinya Indonesia kaya akan batugamping. Tetapi tidak semua batugamping yang ada diwilayah Indonesia dapat berkembang menjadi bentang alam kars.

Beberapa wilayah di Indonesia yang dapat ditemukan bentang alam kars, yaitu : - Pulau Sumatra, bentang alam dipulau Sumatra sangat kurang sangat berkembang, hanya sebagian tempat di Aceh, Sumatra Barat Singkarak dan Sumatra Selatan - Pulau Jawa, sebaran batugamping dipulalau Jawa umumnya berada dibagian selatan dan beberapa diantaranya berkembang menjadi kawasan kars yang penting serta terkenal di kalangan pemerhati kars. Kawasan bentang alam kars tersebut berada didaerah Gombong Selatan dan Gunung Sewu - Pulau Kalimantan, dari ekspedisi speleogi dari tim prancis yang dilakukan pada tahun an ESFIK, melaporkan bentang alam kars di wilayah pegunungan Mangkalit, Kalimantan TImur.

Di Klaimantan Selatan terdapat diwilayah Pegunungan Meratus yang penyebarannya terputus-putus. Bentang alam kars Maros sangat terkenal dan telah diadakan penelitian serta didapat data sedikitnya 29 gua yang harus dilindungi.

Kawasan kars terdapat didaerah Wamena-Pegunungan Trikoradengan nilai ilmiah berupa dolina raksasa, gua terdalam, sungai bawah tanah terbesar serta didaerah Biak dan pulau Misool dengan nilai peninggalan arkeologi. Faktor Fisik Faktor fisik yang mempengaruhi pembentukan topografi karst meliputi ketebalan batugamping, porositas dan permeabilitas batugamping serta intensitas struktur kekar yang mengenai batuan tersebut. Ketebalan Batugamping Menurut Von Engeln, batuan mudah larut dalam hal ini batugamping yang baik untuk perkembangan topografi karst harus tebal.

Batugamping tersebut da[at masif atau terdiri dari beberapa lapisan yang membentuk satu unit batuan yang tebal, sehingga mampu menampilkan topografi karst sebelum batuan tersebut habis terlarutkan dan tererosi.

Ritter mengemukakan bahwa batugamping yang berlapis meskipun membentuk satu unit yang tebal , tidak sebaik batugamping yang massif dan tebal dalam pembentukan topografi karst ini. Hal ini dikarenakan material sukar larut dan lempung yang terkonsentrasi pada bidang perlapisan akan mengurangi kebebasan sirkulasi air untuk menmbus seluruh lapisan. Sebaliknya pada batugamping yang massif, sirkulasi air akan berjalan lancer sehingga mempermudah terjadinya proses karstifikasi.

Porositas dan Permeabilitas Kedua hal ini berpengaruh terhadap sirkulasi air dalam batuan. Menurut Ritter , porositas primer ditentukan oleh tekstur batuan dan berkurang oleh proses sementasi, rekristaslisasi dan penggantian mineral missal dolomitisasi sehingga porositas primer tidak begitu berpengaruh terhadap proses karstifikasi.

Sebaliknya dengan porositas sekunder yang biasanya terbentuk oleh adanya retakan atau pelarutan dalam batuan. Porositas baik primer maupun sekunder biasanya mempengaruhi permeabilitas yaitu kemampuan batuan batuan untuk melalukan air.

Disamping itu permeabilitas juga dipengaruhi oleh adanya kekar yang saling berhubungan dalam batuan. Semakin besar permeabilitas suatu batuan maka sirkulasi air akan berjalan semakin lancer sehingga proses karstifikasi akan semakin intensif. Intesitas Struktur Terhadap Batuan Intersitas struktur terutama kekar sangat berpengaruh terhadap proses karstifikasi. Disamping kekar dapat mempertinggi permeabilitas batuan, zona kekar merupakan zona yang lemah yang mudah mengalami pelarutan dan erosi sehingga dengan adanya kekar dalam batuan proses pelarutan dan erosi berjalan intensif.

Hal inilah yang menyebabkan kekar dapat mempertinggi porositas dan permeabilitas sekaligus sebagai zona lemah yang menyebabakan proses pelarutan dan erosi berjalan lebih intensif. Apabila intensitas pengkekaran sangat tinggi maka batuan menjadi mudah hancur atau tidak memiliki kekauatan yang cukup. Disamping itu permeabilitas mejadi sangat tingi sehingga waktu sentuh batuan dan air sangat cepat. Hal ini menghambat proses kartifikasi Ritter, Adanya control struktur dalam pembentukan topografi karst ini diberikan contoh pada pembentukan gua gambar V.

Gambar V. Sketsa gua yang dikontrol oleh kekar V. Faktor Kimiawi Faktor kimiawi yang berpengaruh dalam proses karstifikasi adalah kondisi kimia batuan dan kondisi kimia media pelarut. Kondisi Kimia Batuan Kondisi kimia batuan yang dimaksud adalah komposisi dan sifat kimia kelarutannya. Dua jenis mineral karbonat yang umum ada pada batugamping adalah kalsit dan dolomite Sweeting, dalam Ritter, Batugamping inilah yang mempunyai kecenderungan untuk membentuk topografi karst.

Topografi kars yang dapat terbentuk pada kalk hanya lembah kering, lubang pelarutan solution pits dari lubang-lubang yang dangkal swallows holes atau bentuk minor yang terdapat dipermukaan lainnya Twidale, Selanjutnya dikemukakan pula bahwa dolomit mempunyai pelarutan dan kekuatan strength yang lebih kecil dibanding kalsit batugamping , sehingga perkembangan topografi kars pada dolomit lebih jelek dibandingkan dengan perkembagan kars pada batugamping.

Topografi kars yang dapat berkembang pada dolomit adalah surupan kecil, depresi yang dangkal dan beberapa depresi dengan lantai dasar dan dinding yang terjal. Kondisi kimiawi media pelarut ini sangat berpangaruh pada proses karstifikasi. Flint dan Skinner mengemukakan bahwa kalsit sangat sulit lartu dalam air murni, akan tetapi ia akan larut dalam air yang mengandung asam.

Larutan inilah yang akan melarutkan batugamping. Dengan demikian bahwa sifat kimiawi media pelarut sangat dipengaruhi oleh banyaknya karbondioksida yang diikatnya. Disamping membentuk larutan asam, karbondioksida didalam air akan meningkatkan tekanan parsial CO2 dalam larutan tersebut.

Tekanan parsial CO2 yang tinggi dalam larutan akan mempertinggi kemampuan larutan untuk melarutkan kalsit. Faktor Biologis Aktifitas biologis dapat mempengaruhi pembentukan topografi kars, baik secara langsung maupun tidak langsung. Menurut Bloom aktifitas biologis dalam hal ini tumbuh-tumbuhan dan mikrobiologis dapat menghasilkan humus yang akan menutupi batuan dasar.

Humus ini menyebabkan batuan dasar tersebut menadi anaerobik, sehingga air permukaan yang masuk sampai kebatuan dasar sampai zona anaerob tekanan parsial CO2nya bertambah besar sampai 10 kali lipat dibanding dengan saat dia berada dipermukaan. Karena tekanan parsial CO2 naik, maka kemampuan air untuk melarutkan batuan menjadi lebih tinggi.

Dengan demikian berarti dengan terbentuknya humus oleh aktifitas biologis, maka proses karstifikasi berjalan lebih internsif. Disamping meningkatkan tekanan parsial CO2 dalam larutan, pada saat pembentukan humus juga terjadi proses dekomposisi material organic yang menghasilkan karbondioksida CO2. Karbondioksida ini disebut dengan biogenic CO2, yang merupakan bagian terbesar dari kandungan CO2 didalam tanah Ritter, Dengan demikian berarti bahwa aktifitas biologis juga menambah suplay CO2 didalam tanah dan CO2 ini akan diikat oleh air tanah sehinga lebih reaktif.

Aktifitas biologis kecuali meningkatkan tekanan parsial CO2 dan menambah kadar CO2 dalam tanah juga dapat berpengaruh secara langsung dalam pembentukan topografi kars.

Folk, dkk Vide Ritter menyebutkan bahwa pembentukan phytokarst dipengeruhi oleh tetumbuhan dalam hal ini algae secara langsung. Algae yang hidup pada betugamping melekat dan menembus permukaan batugamping tersebut sedalam 0,1 — 0,2 mm. Algae ini juga menghasilkan larutan asam yang kemudian melarutkan batuan disekitar tempat tumbuhnya, akibat permukaan batugamping tersebut berlekuk-lekuk dengan lubang-lubang yang saling berhubungan dan bentuk tepinya tajam-tajam.

Faktor Iklim dan Lingkungan Iklim dan lingkungan merupakan dua hal yang sering kali sulit untuk dipisahkan. Lingkungan dalam arti sempit adalah kondisi disekitar tempat yang dimaksud dalam hal ini adalah lahan pembentukan topografi kars dan lingkungan dalam arti luas meliputi seluruh aspek biotik dan abiotik yang ada didaerah yang dimaksud.

Didalam membahas lingkungan dalam arti sempit, Von Engeln mengemukakan bahwa kondisi lingkungan yang mendukung pembentukan topografi kars adalah adanya lembah besar yang mengelilingi tempat yang tinggi, yang terdiri dari batuan mudah larut batugamping yang terkekarkan dengan intensif. Kondisi ini menyebabkan air tanah pada tempat yang tinggi dapat turun , menembus batugamping tersebut dan melarutkannya dengan bebas. Selanjutnya air tanah tersebut msuk kedalam lembah sebagai air permukaan.

Disamping itu Ritter menyebutkan bahwa kondisi lingkungan disekitar batugamping harus lebih rendah, atau dengan kata lain batugamping tersebut haurs memiliki elevasi yang lebih tinggi dibanding lingkungan disekitarnya. Kondisi lingkungan seperti ini menyebabkan sirkulasi air dapat berjalan dengan baik sehingga proses karstifikasi dapat berjalan lebih intensif.

Lingkungan dalam arti luas mencakup kondisi biotik aktifitas biologis dan kondisi abiotik suhu, curah hujan, presipitasi dan penguapan daerah yang dimaksud. Kondisi biotik dan abiotik disuatu daerah sangat ditentukan oleh iklim daerah tersebut Bloom, Selanjutnya dikemukakan pula bahwa kondisi biotik dan abiotik tersebut sangat mempengaruhi proses eksogenik, yaitu baik pelapukan ataupun pelarutan batugamping.

Dengan demikian berarti bahwa iklim sangat mempengaruhi proses eksogenik pada suatu daerah. Selain itu sikulasi air tanah sangat baik, tumbuh-tumbuhan lebah dan aktifitas mikroba cukup tinggi sehingga sangat mendukung terjadinya proses karstifikasi. Air tanah didaerah ini sangat reaktif untuk pelarutan dan suhu udara cukup tinggi sehinga reaksi kimia untuk melarutkan batugamping berjalan lebih cepat. Menurut Bloom , air tanah didaerah tropis mengandung asam organic dan komponen nitrat sehingga agrasifitasnya naik.

Dengan kondisi daerah semacam ini maka topografi kras dapat berjalan dengan baik didaerah beriklim tropis basah. Topografi kars yang dapat terbentuk pada daerah tropis basah sangat bervariasi baik konstruksional maupun topografi sisa. Proses Pembentukan Topografi Kars Von Engeln menyebutkan bahwa kondisi batuan yang menunjang terbentuknya topografi kars ada 4 , yaitu : - mudah larut dan berada dipermukaan atau dekat dengan permukaan - masif, tebal dan terkekarkan - berada pada daerah yang curah hujannya sedang sampai tinggi - dikelilingi oleh lembah sehingga air permukaan dapat melalui rekahan-rekahan yang ada pada batuan sambil melarutkannya Pembentukan topografi kars dimulai pada saat air permukaan memasuki rekahan yang diikuti oleh pelarutan batuan pada zona rekahan tersebut Gambar V.

Diagram aliran air didalam batugamping melalui rekahan a dan gua b. Akibatnya adanya proses pelarutan tersebut, rekahan yang ada menjadi semakin lebar, akhirnya membentuk sungai bawah tanah atau gua.

Davis , dalam Bloom, mengemukakan teori pembentukan gua yang dikenal sebagai deep phreatic theory yang mengemukakan bahwa gua terbentuk ditempat yang jauh dibawah muka airtanah karena aliran air preatik dapat mencapai tempat yang sangat dalam. Apabila suatu saat ada suatu sebab yang menyebabkan gua tersebut beerada diatas muka airtanah, misalnya pengangkatan atau ada penurunan muka airtanah, maka didalam gua tersebut akan terdapat ruangan yang hanya berisi udara atmosfer gua.

Dengan demikian maka airtanah yang bergerak dari atas dan masuk kedalam gua tersebut akan menetes kedasar atau lantai gua. Pada saat airtanah yang membawa larutan kalsium bikarbonat menetes kedalam gua maka gas CO2 dari larutan tersebut berdifusi dan masuk kedalam atmosfer gua, akibatnya akan terendapkan mineral kalsit baik ditempat jatuhnya airtanah maupun pada tempat menetesnya airtanah tersebut Sanders, Endapan kalsit tersebut membentuk Stalagtit dan Stalagmite atau dikenal dengan nama Speleothem.

Dengan adanya gua dan sungai bawah tanah ini maka dapat terbentuk depresi tertutup yan gdisebut surupan. Surupan dolines terbentuk bila atap gua atau sungai bawah tanah runtuh , dan surupan yang terbentuk ini dikenal dengan nama collapse dolines atau subjacent kars collapse dolines. Selanjutanya Bloom mengemukakan bahwa surupan dapat terbentuk oleh proses pelarutan pada saat air permukaan memasuki rekahan pada batuan.

Surupan jenis ini disebut solution dolines. Perkembangan surupan runtuhan collapse dolines dan surupan pelaurutan solution dolines digambarkan oleh Longwell dkk seperti gambar V. Perkembangan collapse dolines akibat runtuhnya atap gua Longwell, Pekembangan surupan runtuhan dimulai dengan adanya rongga bawah tanah gua pada batugamping. Kemudian gua tersebut mengalami pelebaran bersma-sama dengan berkembangnya Stalagmit dan Stalagtit.

Fase selanjutnya adalah runtuhnya atap gua tersebut dan membentuk surupan yang bentuknya tidak teratur. Surupan pelarutan mulai berkembang saat terjadi pelebaran kekar vertical oleh pelarutan Gambar V.

Kemudian terjadi pelebaran kekar tersebut sehingga mambentuk celah yang lebih lebar. Tampak pada gambar V. Fase selanjutnya lapisan penutup dipermukaan terbuka sehingga terbentuk surupan gambar V. Perkembangan surupan akibat adanya pelarutan pada batugamping yang terkekarkan Longwell, Selain yang tersebut diatas, sururpan juga dapat terbentuk oleh proses subsiden pada material sukar larut yang menutup batuan mudah larut.

Apabila surupan-surupan yang berdekatan berkembang sehingga saling berhubungan dan membentuk suatu depresi besar dengan lantai dasar yang bergelombang, maka depresi ini disebut Uvala.

Jenning , dalam Ritter, menyebutkan bahwa uvala dapat tersusun oelh 14 buah doline dengan ukuran yang bervariasi dan beraneka ragam. Selanjutnya disebutkan pula bahwa bila depresi yang besar tersebut memanjang searah jurus perlapisan atau sepanjang zona lemah structural, lantai dasarnya datar dan dindingnya curam maka disebut Polje.

EMPIRISMO ERETICO PASOLINI PDF

Bentang Alam Karst

Adapun proses pembentukan karst atau karstifikasi dipengaruhi oleh dua faktor penentu, yaitu faktor pengontrol yang meliputi batuan mudah larut, curah hujan dan batuan terekspos di ketinggian sirkulasi air dan faktor pendorong yang mencakup temperatur atau suhu dan penutupan lahan. Kedua faktor tersebut berpengaruh pada morfologi medan atau bentang alam karst dan batuan yang mengandung kadar CaCO3 yang tinggi akan mudah larut, curah hujan yang tinggi akan membentuk morfologi endokarst dan eksokarst. Penampakan pada eksokarst berupa doline, uvala, polje, karren dan penampakan endokart berupa terdapatnya gua. Berdasarkan pengertian mengenai karst tersebut di atas, maka danau karst adalah danau yang terbentuk pada daerah batu gamping atau kapur yang mengalami pelarutan sehingga membentuk lahan negatif atau berada di bawah rata-rata permukaan daerah setempat.

ELEKTROTECHNIKA 3 BLAHOVEC PDF

Kumpulan Peraturan mengenai Bentang alam Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS)

Definisi Karst Bentang alam atau morfologi yang terbentuk akibat proses karstifikasi dan proses pelarutan kimia yang diakibatkan oleh aliran permukaan. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bentang Alam Karst 1. Faktor Fisik Faktor fisik yang mempengaruhi pembentukan topografi karst meliputi ketebalan batugamping, porositas dan permeabilitas batugamping serta intensitas struktur kekar yang mengenai batuan tersebut. Ketebalan batugamping, yang baik untuk perkembangan karst adalah batu gamping yang tebal, dapat masif atau yang terdiri dari beberapa lapisan dan membentuk unit batuan yang tebal, sehingga mampu menampilkan topografi karst sebelum habis terlarutkan. Porositas dan permeabilitas, berpengaruh dalam sirkulari air dalam batuan. Semakin besar porositas sirkulasi air akan semakin lancar sehingga proses karstifikasi akan semakin intensif. Intensitas struktur kekar , zona kekar adlah zona lemah yang mudah mengalami pelarutan dan erosi sehingga dengan adanya kekar dalam batuan, proses pelarutan berlangsung intensif.

CHEESECAKE FACTORY SKINNYLICIOUS NUTRITION PDF

Danau Karst : Pengertian – Karakteristik dan Contohnya

Pengertian Bentang Alam Karst 1 Karst adalah istilah dalam bahasa Jerman yang diambil dari istilah Slovenian kuno yang berarti topografi hasil pelarutan solution topography Blomm, Menurut Jenning , dalam Blomm , topografi karst didefinisikan sebagai lahan dengan relief dan pola penyaluran yang aneh, berkembang pada batuan yang mudah larut memiliki derajat kelarutan yang tinggi pada air alam dan dijumpai pada semua tempat pada lahan tersebut. Flint dan Skinner mendefinisikan topography karst sebagai daerah yang berbatuan yang mudah larut dengan surupan sink dan gua yang berkombinasi membentukk topografi yang aneh peculiar topography dan dicirikan oleh adanya lembah kecil, penyaluran tidak teratur, aliran sungai secara tiba-tiba masuk kedalam tanah meninggalkan lembah kering dan muncul sebagai mata air yang besar. Dari sebaran batugamping yang ada, Indonesia merupakan wilayah yang potensial sebagai kawasan kars. Dari kondisi geologinya Indonesia kaya akan batugamping. Tetapi tidak semua batugamping yang ada diwilayah Indonesia dapat berkembang menjadi bentang alam kars. Beberapa wilayah di Indonesia yang dapat ditemukan bentang alam kars, yaitu : - Pulau Sumatra, bentang alam dipulau Sumatra sangat kurang sangat berkembang, hanya sebagian tempat di Aceh, Sumatra Barat Singkarak dan Sumatra Selatan - Pulau Jawa, sebaran batugamping dipulalau Jawa umumnya berada dibagian selatan dan beberapa diantaranya berkembang menjadi kawasan kars yang penting serta terkenal di kalangan pemerhati kars.

EL DESCUBRIMIENTO DE HARRY STOTTLEMEIER PDF

Istilah ini di negara asalnya tidak berkaitan dengan batugamping dan proses pelarutan. Tetapi saat ini telah digunakan secara internasional sebagai istilah bagi bentuklahan asal proses pelarutan solusional. Pengertian tentang topografi karst yaitu : suatu topografi yang terbentuk pada daerah dengan litologi berupa batuan yang mudah larut, menunjukkan relief yang khas, penyaluran tidak teratur, aliran sungai secara tiba-tiba masuk ke dalam tanah dan meninggalkan lembah kering dan muncul kembali di tempat lain sebagai mata air yang besar. Faktor Fisik Faktor-faktor fisik yang mempengaruhi pembentukan topografi karst meliputi : a. Ketebalan batugamping, yang baik untuk perkembangan karst adalah batu gamping yang tebal, dapat masif atau yang terdiri dari beberapa lapisan dan membentuk unit batuan yang tebal, sehingga mampu menampilkan topografi karst sebelum habis terlarutkan. Namun yang paling baik adalah batuan yang masif, karena pada batugamping berlapis biasanya terdapat lempung yang terkonsentrasi pada bidang perlapisan, sehingga mengurangi kebebasan sirkulasi air untuk menembus seluruh lapisan.

Related Articles