EMFISEMA SUBKUTAN PDF

Emfisiema diartikan sebagai terkumpulnya udara secara patologik dalam jaringan atau organ. Subkutis merupakan suatu lapisan kulit setelah dermis, sehingga definisi emfisiema subkutis adalah emfisiema intertisial yang ditandai dengan adanya udara dalam jaringan subkutan, biasanya disebabkan oleh cedera intratoraks, dan pada kebanyakan kasus disertai dengan pneumothoraks dan pneumomediastinum, disebut juga pneumoderma. Hal ini disebabkan karena terdapatnya sekumpulan udara di dalam rongga subkutan pada dinding dada yang menjalar ke jaringan lunak di wajah, leher, dada atas, dan bahu. Terkumpulnya udara di wajah menimbulkan pembengkakan pada kelopak mata yang menyebabkan pasien tidak dapat membuka mata, selain itu juga disertai terjadinya perubahan suara yang menjadi lebih tinggi akibat dari pengumpulan udara di dalam laring. Keadaan yang tampak pada emfisiema subkutis adalah pembengkakan pada kulit yang jika dipalpasi teraba seperti renyah crunchy.

Author:Nekree Tuzragore
Country:Finland
Language:English (Spanish)
Genre:Music
Published (Last):21 October 2018
Pages:21
PDF File Size:1.55 Mb
ePub File Size:16.91 Mb
ISBN:229-1-85393-252-5
Downloads:3757
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Dazahn



Sejarah[ sunting sunting sumber ] Secara harfiah emfisema berarti kembung, karenanya diasosiasikan dengan kembung karena terisi udara. Istilah emfisema ini pertama kali digunakan oleh Hippokrates. Hippokrates memakai istilah ini untuk menggambarkan penumpukan udara di dalam jaringan. Kasus yang dihadapi oleh Boerhaave adalah ruptur spontan kerongkongan karena adanya udara di bawah kulit.

Tanda dan gejalanya dapat diamati dengan inspeksi , palpasi , maupun auskultasi serta dari keluhan yang diperoleh dengan menganamnesis pasien.

Dari inspeksi dapat terlihat pembengkakan dan atau kemerahan di daerah emfisema. Jika kebocoran udaranya sangat banyak, bisa sampai menyebabkan bengkak ke daerah wajah dan kelopak mata tidak dapat dibuka. Pada pemeriksaan palpasi permukaan kulit akan terasa seperti meraba spons, atau kertas atau sesuatu yang garing. Perabaan ini akan menimbulkan suara berderak atau bunyi kertak atau suara seperti sepatu bot di salju kering.

Pembengkakan pada kulit ini tidak memberikan rasa sakit saat ditekan. Saat penekanan, akan terasa perpindahan udara di bawah kulit. Gejala yang dikeluhkan pasien bisa bermacam-macam mulai dari nyeri tenggorokan, kesulitan menelan, nyeri leher hingga kesulitan bernapas. Emfisema subkutan yang terjadi pada daerah leher terkadang akan menyebabkan perubahan suara pada pasien menjadi lebih nyaring. Ini terjadi akibat akumulasi udara di mukosa faring.

Trauma dada adalah penyebab yang paling sering. Pada trauma benda tajam, pleura robek, sehingga menyebabkan udara yang berada di dalam paru-paru akan menyebar ke otot dan lapisan subkutan.

Emfisema subkutan juga dapat terjadi pada trauma benda tumpul yang menyebabkan tulang rusuk patah. Tulang rusuk ini melukai parenkim paru yang menyebabkan rupturnya alveolus. Pada beberapa kasus yang jarang, emfisema subkutan dapat terjadi akibat trauma pada tulang wajah, perforasi usus atau gelembung udara pulmonal. Seperti misalnya operasi daerah dada, operasi daerah esofagus , operasi gigi yang menggunakan teknik berkecepatan tinggi, endoskopi , bronkoskopi , intubasi endotrakeal , tindakan laparaskopi , cricothyrotomy dan sebagainya.

Selain tindakan medis invasif, emfisema subkutan juga bisa timbul akibat kelalaian dokter pada prosedur noninvasif. Misalnya pada pasien yang dipasangi alat ventilator yang kurang berfungsi atau rusak dan manuver Valsalva yang meningkatkan tekanan di dalam rongga dada.

Emfisema subkutan juga bisa timbul pada wanita saat pemeriksaan panggul, irigasi vaginal atau latihan bergerak setelah melahirkan. Hal ini terjadi karena organisme infeksius memproduksi gas sebagai hasil dari fermentasi. Kemudian gas ini menyebar ke sekitar lokasi awal infeksi dan menyebabkan terjadinya emfisema subkutan. Emfisema subkutan bisa timbul dari kerusakan pada jaringan mukosa hidung atau kerusakan pada sendi, cedera saat menyelam akibat perubahan tekanan udara barotrauma , batuk lama, adanya zat korosif yang melewati kerongkongan baik kecelakaan ataupun yang disengaja , luka bakar , saat menghirup kokain , mengedan saat proses persalinan, mual dan muntah yang berlebihan, penyakit paru obstruktif kronis dan asma pada anak.

Penggunaan ambulatory bag alat resusitasi pernapasan manual juga dilaporkan pernah menyebabkan emfisema subkutan. Hal ini menyebabkan udara masuk ke jaringan lunak di daerah leher dari mediastinum dan retroperitoneum. Udara dari alveolus yang ruptur akan masuk ke interstisium, masuk ke mediastinum dan berlanjut ke jaringan lunak di leher dan kepala. Emfisema subkutan juga dapat terjadi karena udara di dalam mediastinum menyebar ke lapisan pleura viseralis dan jaringan ikat di dekatnya.

Tanda khas berupa krepitasi pada saat palpasi adalah temuan yang paling lazim. Dalam pemeriksaan fisis juga harus ditemukan pembengkakan di bawah kulit. Bisa di daerah perut, dada, wajah dan leher atau di tempat yang lain. Pada beberapa kasus, ditemukan palpebra atau kelopak mata pasien menutup yang menyebabkan keluhan gangguan penglihatan.

Sebagian pasien juga ada yang datang dengan perubahan suara. Menurut Medeiros, penegakan diagnosis dapat dilakukan dengan meletakkan stetoskop di atas kulit dengan emfisema subkutan, dan akan terdengar bunyi akustik frekuensi tinggi. Namun pada beberapa kasus, di mana gejalanya samar, dibutuhkan pemeriksaan tambahan.

Pemeriksaan ini juga dilakukan sebagai bagian dari penegakan diagnosis. Pemeriksaan foto dada, emfisema di daerah dada mungkin akan memperlihatkan gambaran radiolusen pada otot pektoralis mayor. Seringnya memberikan gambaran pembengkakan di batas luar rongga dada dan dinding abdomen.

Pada pemeriksaan foto dada juga akan ditemukan tanda daun ginkgo ginkgo leaf sign yang berupa garis gas di sepanjang otot pektoralis mayor. Pada pemeriksaan CT scan akan tampak kantung udara yang berwarna hitam di daerah subkutan pada potongan melintang. Pemeriksaan CT scan juga sering kali bisa mengidentifikasi penyebab dari emfisema subkutan yang tidak bisa ditemukan pada pemeriksaan foto thoraks AP lateral. Mengingat emfisema subkutan ini jarang berdiri sendiri, harus selalu dipikirkan kemungkinan penyakit lain yang mendasarinya.

Hal ini terjadi karena udara yang terbentuk akan direabsorbsi oleh tubuh. Pada kasus yang berat, dilakukan insisi dan pemasangan kateter untuk mengeluarkan udaranya. Pemberian oksigen dapat membantu penyerapan udara oleh tubuh karena akan melarutkan nitrogen dan terjadinya difusi partikel gas.

Meskipun ringan, kondisi emfisema subkutan ini memerlukan tirah baring, monitor dan evaluasi ulang. Tetapi prinsip utama pengobatan emfisema subkutan adalah mengetahui mekanisme penyebabnya. Apakah berdiri sendiri atau disebabkan karena kondisi lain yang justru lebih berat. Karena sering kali, dengan mengatasi penyebabnya, emfisema subkutan bisa perlahan-lahan membaik tanpa adanya tindakan khusus.

Sindrom kompartemen adalah keadaan yang timbul karena meningkatnya tekanan di dalam kompartemen otot. Ini akan menyebabkan cedera pada jaringan ototnya sendiri, pada pembuluh darahnya serta saraf. Pilihan utamanya hanya operasi fasciotomi dan ini merupakan tindakan emergensi. Bahkan pada kasus ventilasi mekanik tekanan positif, emfisema subkutan ini masih dianggap tidak berbahaya.

Namun karena kondisi ini jarang berdiri sendiri dan biasanya terjadi karena adanya trauma, emfisema subkutan perlu mendapat perhatian. Terlebih bila emfisema subkutannya luas. Meskipun jarang, emfisema subkutan dapat berubah menjadi kasus emergensi yang mengancam jiwa karena menyebabkan henti napas dan henti jantung. Hal ini akan menyebabkan kesulitan bernapas dan ketidakmampuan paru untuk mendapatkan volume tidal jumlah udara yang diinspirasi dan diekspirasi pada setiap pernapasan normal yang adekuat.

Perluasan emfisema subkutan ke daerah leher pun dapat menyebabkan disfagia kesulitan menelan dan penekanan jalan napas. Saat volume tidal paru tidak tercukupi akan terjadi peningkatan tekanan yang akan memicu barotrauma atau bahkan pneumothoraks.

Emfisema subkutan juga dapat menyebabkan menurunnya preload jantung dan kurangnya oksigen yang berakibat jeleknya perfusi ke otak. Emfisema subkutan yang meluas ke daerah genital akan menyebabkan gangguan vaskularisasi. Gangguan aliran darah ke arah genital yang membawa oksigen dan makanan akan membuat daerah di sekitarnya mengalami nekrosis atau kematian jaringan.

Emfisema subkutan ini juga mampu menyebabkan disfungsi pada alat pacu jantung karena udara yang terjebak menyebabkan ketidakmampuan alatnya menghasilkan listrik di jantung.

MAHMUT MAKAL BIZIM KY PDF

emfisema-subkutan

Mugami Support Radiopaedia and see fewer ads. Case 3 Case 3. Loading Stack — 0 images remaining. Subcutaneous emphysema is frequently found in pneumothorax air outside of the lung in the chest cavity [14] [15] and may also result from air in the mediastinumpneumopericardium air in the pericardial cavity around the heart. Elevated Hyperthermia Heat syncope. There are often striated lucencies in the soft tissues that may outline muscle fibres.

AKG K280 PDF

Emfisema Subkutan

Udara yang berasal dari internal : - Pneumotorax - Pneumomediastinum - Emfisema pulmonary interstistial - Perforasi viscus yang berongga didaerah leher - Fistula pada traktus 2. Udara yang berasal dari eksternal : - Trauma penetrasi - Pembedahan - Intervensi perkutaneus 3. Udara yang dihasilkan de novo - Adanya infeksi yang memproduksi gas Patofisiologi Emfisema subkutis spontan dapat terjadi karena peningkatan tekanan udara di paru yang menyebabkan rupture pada alveoli. Udara berpindah dari alveoli yang rupture tadi menuju intersisium dan sepanjang pembuluh darah paru, menuju mediastinum dan ke jaringan Gambaran Klinis Keluhan: Gejala klinis tergantung penyebabnya. Tapi, sering muncul gejala pembengkakan pada bagian leher dan nyeri dada.

AT LAST COMES LOVE MARY BALOGH PDF

Emfisema subkutan

Kazrahn A sudden rise in end-tidal CO 2 following the initial rise that occurs with insufflation first min should raise suspicion of subcutaneous emphysema. Nil Conflict of Interest: Ultrasound of abdomen was reported to be normal. Subsequently the emfjsema spreads into the neck and subcutaneous planes. When emphysema occurs due to infection, signs that the infection is systemic, i. Journal of Clinical Anesthesia.

Related Articles