AMTSILATI PDF

Amtsilati, Metode Baca Kitab yang Lahir di Bulan Ramadan Senin, 03 Juni Kira-kira 18 tahun lalu, di bulan Ramadhan tahun , seorang alumni pesantren, asal Desa Sidorejo Bangsri Jepara, Taufiqul Hakim namanya, merampungkan penulisan kitab metode cepat membaca kitab kuning untuk pemula dengan target waktu tiga sampai enam bulan, yang diberi nama Amtsilati. Kitab Amtsilati dirampungkan hanya dalam waktu sepuluh hari. Mulai tanggal 17, dan selesai tanggal 27 Ramadan. Namun kitab ini mujarab, dengan target tiga sampai enam bulan, santri bisa membaca kitab kuning.

Author:Vokasa Nelkree
Country:Malawi
Language:English (Spanish)
Genre:Technology
Published (Last):15 December 2005
Pages:213
PDF File Size:3.86 Mb
ePub File Size:2.52 Mb
ISBN:293-5-22682-213-9
Downloads:20959
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Bradal



Amtsilati, Metode Baca Kitab yang Lahir di Bulan Ramadan Senin, 03 Juni Kira-kira 18 tahun lalu, di bulan Ramadhan tahun , seorang alumni pesantren, asal Desa Sidorejo Bangsri Jepara, Taufiqul Hakim namanya, merampungkan penulisan kitab metode cepat membaca kitab kuning untuk pemula dengan target waktu tiga sampai enam bulan, yang diberi nama Amtsilati.

Kitab Amtsilati dirampungkan hanya dalam waktu sepuluh hari. Mulai tanggal 17, dan selesai tanggal 27 Ramadan. Namun kitab ini mujarab, dengan target tiga sampai enam bulan, santri bisa membaca kitab kuning. Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini Durasi waktu yang demikian singkat tentu mengejutkan, karena banyak santri yang memerlukan beberapa tahun sampai bisa membaca kitab kuning. Bahkan mungkin orang yang hanya mendengar kabar itu tak percaya.

Dalam memperkenalkan Amtsilati, Kiai Taufiq tidak hanya presentasi dengan ragam teori, namun beliau menyertakan bukti. Setiap seminar Amtsilati, beliau mengajak santri-santri yang masih kecil atau lulusan SD, untuk diuji di depan publik, bahkan beliau mempersilahkan pengunjung untuk turut serta seperti mengajukan redaksi dari kitab yang dikehendaki.

Lahir dari Sebuah Keresahan Amtsilati tidak lahir begitu saja, tanpa sebuah latar belakang. Saat itu Kiai Taufiq mengalami kesulitan belajar membaca kitab kuning, mengingat sebelum mondok hanya mengenyam pendidikan yang porsi pelajaran agamanya sedikit.

Sebagai persyaratan wajib masuk PIM, Kiai Taufiq mau tidak harus menghafalkan Alfiah kitab yang berisikan nazam gramatikal bahasa Arab , namun saat itu beliau belum tahu untuk apa Alfiah. Baru setelah kelas dua Aliyah, Kiai Taufiq sedikit demi sedikit mulai mengetahui bahwa Alfiah adalah pedoman dasar untuk membaca kitab kuning. Dari situ, kata Kiai Taufiq, mulai termotivasi dan girah untuk memahami Alfiah pun muncul, dan akhirnya sampai kepada sebuah kesimpulan, bahwa untuk membaca kitab kuning, tak semua nazam Alfiah secara prioritas digunakan untuk membaca kitab kuning.

Menurut beliau hanya kisaran sampai nazam yang menjadi sekala prioritas, sedang yang lainnya sifatnya menyempurnakan. Tahun Kiai Taufiq lulus dari Kajen. Bertepatan dengan kepulangan Kiai Taufiq, ada empat orang temannya yang juga ikut ke Bangsri Jepara, dengan tujuan bekerja di mebel.

Empat orang ini hafal Alfiah, namun belum paham untuk apa Alfiah. Lalu Kiai Taufiq mulai melakukan pembelajaran sampai terkumpul bait nazam Alfiah. Selanjutnya, kedua ponakan beliau juga ikut mengaji, dan akhirnya beliau mendirikan majelis taklim yang diikuti hampir santri—majelis taklim ini nantinya akan berkembang menjadi pondok pesantren Darul Falah.

Seminggu setelah keberangkatan, ayah beliau dipanggil oleh Allah Yang Maha Kuasa, dan beliau tidak bisa mengantar jenazah ayahnya ke makam karena masih ada tugas dan jika memaksakan pulang pun sudah tidak ada angkutan. Setelah tujuh hari ayahnya, dengan berbekal sumbangan dari tetangga berupa 20 kg dan uang 50 ribu, Kiai Taufiq kembali ke pesantren. Di Pesantren Kiai Salman ini, Kiai Taufiq juga ikut laden pembatu tukang batu membangun Pondok Pesantren al-Manshur dan bertekad tidak akan pulang sebelum mengkhatamkan mengaji tarekatnya.

Namun mengaji tarekat yang biasanya ditempuh selama kurang lebih lima tahun, Kiai Taufiq dinyatakan lulus hanya dalam waktu seratus hari. Kiai Taufiq pun lalu kembali ke kampung halamannya, tapi majelis taklim yang dulu ia rintis telah bubar, dan hanya satu murid yang kembali.

Kiai Taufiq saat itu jadi tak punya aktivitas selain mengajar muridnya itu. Sampai pada suatu hari ada tetangganya yang pingsan dan tak ada yang bisa menyadarkan. Lantaran dibacakan ayat kursi oleh Kiai Taufiq, tetangga tersebut diberi kesadaran oleh Allah.

Juga pernah ada anak sakit, dan sembuh lantaran Kiai Taufiq. Dari situ, nama beliau mulai dikenal masyarakat, dan mulai pula anak-anak desa belajar kepada beliau, begitu pula datang tamu-tamu untuk berobat. Untuk memfasilitasi tempat belajar bagi murid-muridnya, Kiai Taufiq memutuskan membongkar rumahnya, dan membangun gubuk-gubuk kecil dan rumah beliau kembali.

Yang demikian ini sempat mendapat tanggapan kurang mengenakkan masyarakat setempat, dan itu merupakan tantangan Kiai Taufiq sebagai perintis. Nyai Faizah sudah dikenal beliau sejak di pesantren. Beliau mengenalnya dengan niat khitbah, yang kelak jika sudah punya kemampuan ekonomi, akan dinikahi.

Walaupun sudah kenal sejak di pesantren, Kiai Taufiq tidak pernah melihat wajahnya, sampai waktu pinangan. Sampai tahun pengajaran Alfiah dengan sistem guru menulis di papan tulis, lalu dibaca dan dipelajari bersama-sama dengan murid.

Ternyata ada yang bisa menerima atau paham dan yang tidak karena sama sekali belum pernah belajar ilmu nahwu. Lalu pada suatu saat, Kiai Taufiq mendengar adanya metode cepat membaca Alquran: Qiroati. Kiai Taufiq berpikir, kalau Qiroati adalah metode membaca yang ada harakatnya, beliau ingin membuat metode cepat membaca yang tidak ada harakatnya. Mulai tanggal 27 Rajab, Kiai Taufiq mulai merenung dan terpikirkan untuk melakukan mujahadah. Dalam tarekat yang beliau ikuti, ada doa khusus, ketika seseorang ikhlas, akan diberikan jalan keluar oleh Allah dari masalah apa pun kurang dari empat hari.

Di situ pula kadang beliau seakan berjumpa, dalam keadaan setengah tidur dan sadar, dengan Kiai Mutamakkin, Syekh Bahauddin an-Naqsabandi dan Imam Ibnu Malik. Hari-hari itu, kata Kiai Taufiq, dorongan menulis sangat kuat. Siang malam beliau mengikuti dorongan tersebut, hingga akhirnya pada tanggal 27 ramadan, Amstilati selesai dalam bentuk tulisan tangan. Begitu kira-kira cerita singkat kelahiran Amstilati, yang penulis kutip dari buku Tawaran Resolusi Pendidikan Nasional: Berbasis Kompetisi dan Kompetensi, yang terbit tahun Biasanya mulai digunakan di jilid 4.

Setiap jilid dibimbing oleh satu ustaz—atau kalau murid terlalu banyak, kelas dibagi menjadi dua dan seterusnya, sesuai kebutuhan. Cara pembelajarannya, ustaz membacakan materi, lalu ditirukan murid-murid bersama, dilanjutkan ustaz memerintahkan murid membaca contohnya satu persatu. Kadang-kadang juga ditanya materi yang telah lewat. Pembelajaran Amstilati bersifat fokus. Sehari ada empat pertemuan, ditambah dengan setoran hafalan setiap malam—kalau pada umumnya, setoran hafalan hanya setoran nazam, di Amstilati yang disetorkan adalah materi berserta nazamnya.

Dasarnya nazam! Anak yang sudah bisa boleh mengajukan tes—dulu saat penulis masih mondok, tes dilaksanakan setiap hari Senin dan Kamis. Murid diizinkan mengikuti tes tulis setelah lolos tes lisan—dan jika lulus akan naik jilid. Yang begini ini memicu semangat untuk segera mengkhatamkan Amstilati. Penulis dulu merasakan langsung bergegas belajar dan mengejar hafalan, saat tahu teman satu angkatan lebih dulu naik jilid.

Setelah murid lulus jilid 5, murid akan memasuki kelas praktik. Melihat bentuk dan susunan entri-entrinya, kata Gus Mus dalam kata pengantarnya, kamus At-Taufiq ini bisa disebut kamus santri. Kadang juga beliau meminta santri meneruskan membaca kitab kuing, lalu ditanya alasan dibaca demikian, dan diminta menyebutkan dasarnya dari nazam Khulasoh Alfiah.

Santri yang tak bisa menjawab sampai hitungan ke tiga ada salah satu santri yang bertugas menghitung. Penghitungan menggunakan bahasa jawa: setunggal, kaleh, tigo dihukum berdiri. Salah satu terobosan Amstilati, sebagai metode cepat membaca kitab kuning, adalah kepiawaian Kiai Taufiq membuat Rumus, yang efektif digunakan mengelupas kata per kata maupun struktur kalimat-kalimat berbahasa Arab.

Setiap kali murid menjumpai sebuah kata, murid dituntut menggunakan Rumus Utama: Bedakan setiap kata antara:.

GALEN BURGHARDT PDF

Pondok Pesantren Darul Falah: Pusat Belajar Metode Amtsilati

Tidak sembarang orang mampu membacanya, sehingga diperlukan ilmu khusus untuk dapat membacanya. Ilmu itu disebut dengan ilmu alat, yakni ilmu Nahwu dan Sharaf. Berbagai kitab tentang ilmu Nahwu dan Sharaf atau gramatikal Arab telah ditulis oleh ulama. Hanya saja, masih banyak para santri atau pelajar yang belum mampu menguasai kitab kuning dalam kurun waktu yang relatif cepat. Meskipun mereka telah bertahun-tahun mempelajari ilmu Nahwu dan Sharaf dengan menggunakan kitab-kitab sebagaimana tersebut di atas. Namun, salah satu kiai di Indonesia telah berhasil menemukan metode cara cepat membaca kitab kuning yang beliau beri nama Amtsilati. Beliau adalah KH.

ALLGEMEINE BETRIEBSWIRTSCHAFTSLEHRE THOMMEN PDF

Sejarah Lahirnya Metode Amtsilati: Cara Cepat Membaca Kitab Kuning

Taufiqul Hakim, metode Amtsilati yang ditemukannya tersebut diperoleh setelah berpayah-payah menjalani laku tirakat yang sangat serius. Ia berkeyakinan bahwa hanya dengan demikian, Allah akan memberikan kemudahan kepadanya. Sejak saat itu seakan ada dorongan tenaga yang sangat kuat yang menggerakkannya untuk terus menulis dan menulis. Siang dan malam ia melakukannya tanpa sedikitpun mengenal lelah. Sampai akhirnya, ia berhasil secara cemerlang merampungkan tulisannya tersebut.

300 RAMAYANAS BY AK RAMANUJAM PDF

Ada yang berlebihan bahkan menyebut bahasa Arab sebagai bahasa surga. Akan tetapi melihat huruf-huruf yang kelihatan ruwet dalam kitab-kitab kuning atau kitab gundul itu orang menjadi ngeri. Yang menakutkan lagi, jika orang ingin bisa berbahasa Arab harus mengeram berlama-lama di pesantren, sampai tua dan tidak sempat menikah. Orang harus belajar ilmu nahwu, memutar-mutar harakat sampai ngelu; harus belajar ilmu sharaf yang menegangkan saraf, satu kata dibolak-balik menjadi puluhan kata, puluhan makna. Banyak yang ketakutan bahwa bahasa Arab adalah bahasa tersulit di dunia. Hal itulah yang menginspirasi Taufiqul Hakim, seorang kiai muda usia, untuk menyusun metode pembelajaran kitab kuning secara cepat, tepat, dan menyenangkan. Hari itu seakan-akan ada dorongan kuat untuk menulis.

Related Articles