LIMFOMA MALIGNA PDF

Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri b. Hyperthermia b. Ketidakseimbangan nutrisi ; kurang dari kebutuhan tubuh b.

Author:Negore Faejar
Country:Bulgaria
Language:English (Spanish)
Genre:Finance
Published (Last):14 January 2008
Pages:250
PDF File Size:14.2 Mb
ePub File Size:15.44 Mb
ISBN:299-2-91030-219-2
Downloads:55573
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Kazragul



Pada limfoma non-Hodgkin, dapat tumbuh pada kelompok kelenjar getah bening lain misalnya pada traktus digestivus atau pada organ-organ parenkim. Klasifikasi Dua kategori besar limfoma dilakukan atas dasar histopatologi mikroskopik dari kelenjar getah bening yang terlibat yaitu: 2. Klisifikasi limfoma non-hodgkin berada dalam keadaan transisi. Klisifikasi rappaport yang digunakan secara luas diperkenalkan pada tahun didasarkan pada sitologi dan susunan arsitektur limfosit maligna dalam kelenjar limfe.

Klasi fikasi ini membagi limfoma menurut 1. Difus D ; pada jenis ini tidak terjadi agregasi. Kemajuan ilmu pengetahuan dalam bidang imunologi dan fisiologi limfosit, seperti membedakan limfosit dalam sel B dan sel T, memberikan klasifikasi yang lebih pasti dari limfoma non-hodgkin seperti yang tercermin dalam klasifikasi oleh lukes dan collins.

Klasifikasi terbaru yang dikenal dengan formula kerja, merupakan hasil usaha dari institusi internasional. Klasifikasi ini didasarkan pada imunologi, fisiologi limfosit, morfologi seerta tingkah laku pada limfoma. Tiga kategori prosnostik telah diidentifikasi: limfoma maligna derajat rendah, derajat menengah, dan derajat tinggi.

Inti bulat, padat, dengan nukleoli yang tidak mencolok. Gambaran mitosis jarang. Yang erat hubungannya dengan WDLL iyalah leukimia limfosit kronik CLL , juga ditandai dengan limfosit neoplastik kecil, tidak hanya dalam nodus seluruh tubuh, tetapi juga dalam sum-sum tulang dan darah perifer. Keduanya timbul melalui trasformasi neoplasma limfosit B kecil. Secara histologis, dalam nodus kedua penyakit tersebut adalah identik. Gambaran klinisnya juga sama. Keduanya terjadi primer dalam golongan uur tua, gejala yang berhubungan ringan dan keleangsungan hidup lama.

Limfadenopati lokal dan umum sering terjadi pada WDLL. Intinya ireguler, dengan indentasi yang nyata pada membran inti, dan lekukan linier inti bercelah. Kromatin kasar dan padat sementara mitosisny jarang. Sebagian kasus PDLL difus berkaiatan dengan adanya sel tumor pada darah perifer yang disebut limfo sarkoma sel leukimia , walaupun kekerapan laukimia jauh lebih rendah dari pada WDLL.

Sel tumor mempunyai inti vesikuler, yang biasanya bulat walaupun kadang-kadang reniform, berindentasi, atau berlobus disertai satu atau sampai tiga nukleoli. Kategiri histiologik khusus yang terkait, yang kadang-kadang disertai dengan kelainan imunologis seperti sindroma Sjogren, atau keadaan imunosupresi misalnya pada resipien alograf ginjal , telah disebut sebagai limfomaimunoblastik.

Hampir selalu HL sekarang terdiri atas sel sejenis T dan B aktif, dan libih besar. Dengan demikian banyak pakar menyukai istilah limfoma difus sel besar untuk jenis tumor ini. Dengan mengabaikan dengan sebutan yang disukai, limfoma ini berhubungan dengan keadaan klinik yang berbeda-beda. Dibandingkan dengan limfoma limfosit, keterlibatan ekstra nodus lebih sering, tentu saja keterlibatan saluran gastrointestinal, kulit, tulang, atau otak sering memberikan gejala.

Pada sitologi ini tampak dalam bentuk-bentuk difus dan nodular. Sebagaimana dalam kebanyakan subtipe sitologi lain, bentuk nodular memiliki prognosis lebih baik.

Tetatpi keadaan yang relatif jarang pada limfoma campuran ini, telah menyukarkan dalam melakukan studi jangka panjang yang teliti. Sebelumnya kasus-kasus ini masuk dalam PDLL difus, tetapi penelitian mutakhir menunjukkan bahwa limfoma limfoblas merupakan keadaan klinikopatologi yang berbeda, yang berhubungan erat dengan leukimia limfoblas.

Akut sel T ALL. Sel-sel tumor dalam limfoma limfoblas relatif seragam. Seperti umumnya dengan sel-sel leukimia ALL. Kebanyakan kasus, selaput inti menunjukkan invaginasi dalam, memberi gambaran berlekuk-lekuk berlobul. Mitosis relatif sering terjadi. Limfoma limfoblas terutama menyerang laki-laki muda kebanyakan penderita berumur dibawah 20 tahun, meskipun beberapa kasus masa kini yang menjangkiti orang dewasa juga ditemukan. Penyakit berjalan cepat progresif dengan penyebaran awal ke sumsum tulang belakang ke dalam darah serta miningitis, menimbulkan evolusi gambaran menyerupai ALL.

Sampai sekarang prognosis tumor ini kabur, tetapi usaha-usaha mutakhir untuk pengobatan tumor ini dilakukan secara agresif denga memanfaatkan tatalaksana efektif pada ALL, telah memperoleh hasil-hasil yang menggembirakan dalam beberapa penelitian. Dalam ketegori ini dua subkelompok yang secara klinik berbeda telah diketahui : tipe burkit dan non-burkit. Secara histiosit limfoma tidak berdiferensiasi non-burkit terdiri atas sel-sel yang berukuran diantara ukuran sel-sel PDLL dan histiosit.

Terdapat sejumlah inti dan pleomorfisme sel bersama dengan indeks mitosis tinggi. Secara klinik tumor-tumor ini bersifat sebagai limfoma difus sel-sel besar. Limfoma tidak berdiferensiasi jenis burkitt dicatat untuk pertama kali di Afrika, tempat yang endemik di beberapa tempat, tetapi juga secara sporadik di daerah nonendemik. Secara histiologis kasus-kasus limfoma burkit pada penduduuk Afrika dan yang secara nonendemi pada bangsa Amerika saja. Terdapat sitoplasma yang berwarna basofil atau amfofil lemah dalam jumlah agak banyak, yang sering kali mengandung vakuol berisi lipid.

Indeks mitosis tinggi sangat khas untuk tumor ini, sebagaimana kematian sel yang dinyatakan adanya sejumlah makrofag jaringan dengan mencerna debris inti. Kasus penduduk Afrika dan bukan Afrika secara luas terdapat pada anak-anak atau orang-orang muda. Pada kedua bentuk penyakit tersebut yang mengenai nodus limfatik. Dalam kasus bangsa Afrika, keterlibatan maksila atau mandibula merupakan pola umum, sedangkan tumor pada bagian perut usus, retroperitonium, ovarium merupakan kasus umum yang yang ditemukan di Amerika.

Transfoormasi leukimia kadang-kadang terjadi. Tumor-tumor ini memberikan reaksi baik terhadap kemoterapi agresif dan dilaporkan adanya remisi jangka panjang waktu lama. Tetapi dalam banyak kasus dapat kambuh lagi, dan sebagian besar penderita meninggal dalam waktu 5 tahun. Keadaan ini erat berhubungan dengan keganasan limfoid, yang terutama pada kulit jauh lebih umum dibandingkan dengan yang diperkirakan sebelumnya.

Menurut beberapa pakar, kira-kira Mikosis fungoides biasanya mengenai laki-laki berumur 40 tahun sampai 60 tahun. Lesi dimulai sebagai eksem yang tidak berbatas tegas , disusul oleh pembentukan bercak-bercak, dan akhhirnya timbul nodul-nodul tumor multipel. Secara histiologis terdapat infiltrasi epidermis dan dermis bagian atas oleh sel-sel neoplasi T yang biasanya memiliki inti-inti yang berlekuk serebriform. Pada sebagian besar penderita terjadi penyebaran ekstrakutan ke nodus limfatik dan visera.

Sindroma sezary merupakan kondisi yang berhubungan dengan penyebaran ke kulit diikuti eritroderma eksfoliatif generalisata, tetapi lesi kulit tersebut jarang menyebabkan pembengkakan. Sebagai gantinya, terdapat limfosit atipi dalam darah yang memiliki penampilan serebriform sama dengan yang tampak pada infiltrasi mikosis fungoides dalam kulit. Jadi sindroma sezary dapat dianggap varian leukimia dari limfoma sel-T pada kulit.

Dengan cara-cara pengobatan mutahir, rata-rata kelangsungan hidup penderita limfoma sel-T kulit ini mencapai sembilan sampai sepuluh tahun. Limfoma Hodgkin HD Hampir secara universal, klasifikasi tunggal penyakit hodgkin diterima, yaitu klasifikasi Rye.

Pada dasarnya ada 4 sub tipe: 1. Bentuk campuran sel, 3. Limfosit sedikit dan 4. Sklerosis nodular. Tetapi sebelum memberikan penjelasan, kita harus mencatta denominator umum antara semuanya-sel RS- dan metode yang digunakan untuk menandai derajat penyakit pada penderita disebut sebagai sistem stadium. Kondisi penting diaknosis histologi penyakit hodgkin ialah terdapatnya sel reed-sternberg sel RS. Meskipun penting , sel RS bukan kekusussan penyakit hodgkin, karena kadang-kadang terdapat dalam mononukleosis infeksiosa, mikosisfungoides dan dalam limfoma non hodgkin , demikian juga pada bentuk-bentuk lain.

Sel RS memiliki sitoplasma yang biasanya agak eosenofil , dengan ukuran diameter berkisar antara 15 sampai Secara asas dibedakan antara yang memiliki intim multilobus maupun yang multi nukleus dengan inti besar, bulat dan nekleolus mencolok. Ciri khasnya ialah dua inti yang berbanyangan cermin, masing-masing membawa nukleolus asidofil besar yang dikelilingi oleh zona yang sangat jelas jernih, bersama-sama memberikan penanpakan bermata burung hantu. Selaput inti nyata berbeda sel-sel abnormal lain, mungkin mewakili berbagai varien sel RS, mungkin juga terdapat dalam penyakit hodgkin.

Sel RS yang kas tersebar luas dan sangat sukar ditemukan,meskipun varian yang memiliki nukleoli lebih kecil mungkin banyak jumlahnya. Sel RS yang khas banyak, tetapi jumlah limfosit kurang dibandingkan bentuk limfosit dominan keterlibatan nodus limfotik hampir selalu difus. Ada dua bentuk morfologi, disebut fribosis difus dan jenis retikular. Yang terdahulu, nodus bersifat hiposelular dan sebagian besar diganti oleh bahan berserat sejenis protein yang mewakili jaringan ikat tanpa batas tepi secara tidak langsung.

Adanya varien khusus sel RS, sel lakuna. Seli ini besar dan memiliki satu intil tunggal, berbagai dengan banyak nukleoli kecil dan sitoplasma berlimpah, berwarna pucat dengan batas tepi yang tegas. Pada jaringan yang difiksasi formalin sitoplasma sel ini sering mengisut. Sifat lain yang terlihat pada banyak kasus ialah adanya pita kolagen yang membelah jaringan limfoid ke dalam nodul yang terbatas. Sel RS plasi jarang ada.

Pada keadaan dengan pita kolagen berjumlah sedikit, diagnosis tergantung identifikasi sel lakuna. Dalam semua bentuk, keterlibatan limpa, hati, sumsum tulang, dan alat-alat tubuh serta jaringan lain mungkin timbul setiap saat dan berbentuk jaringan noduli seperti tumor yang ireguler mirip yang terdapat pada nadular limfatik. Kadang- kadang limpa sangat membengkak kerena adanya masa-masa nodular. Pada saat lain keikutsertaan tersebut lebih samar dan menjadi jelas hanya dengan pengamatan mikroskop 2.

Komplikasi Komplikasi yang dialami oleh pasien dengan limfoma dihubungkan dengan penanganan dan berulangnya penyakit. Infeksi adalah potensial komplikasi yang paling serius yang munkin dapat menyebabkan syok sepsis. Resiko sepsis lebih tinggi pada regimen kemoterapi agresif dan transplantasi sumsum tulang. Efek jangka panjang dari kemoterapi meliputi kemandulan, kardiotoksik, dan fibrosis pulmunal. Perkembangan leukimia yang disertai oleh agen alkalin mungkin menjadi satu komplikasi yang fatal.

Efek samping radio terapi dihubungkan dengan area yang diobati. Bila pengobatan pada nodus limfa servikal atau tenggorok, maka akan terjadi hal-hal sebagai berikut: mulut kering, disfagia, mual, muntah, rambut rontok, dan penurunan produksi saliva.

Juga mungkin dapat terjadi peningkatan karies gigi. Bila dilakukan pengobatan pada nodus limfa abdomen, efek yang mungkin terjadi adalah muntah, diare, keletihan, anoreksi, supresi sumsum tulang. Pneumonitis radiasi merupakan efek samping lama dari pengobatan pada daerah mediastinum. Sindrom vena kava superior dan kompresi medulla spinalis merupakan kegawatan onkologi secara struktural yang sering terjadi dari limfoma.

AASTRA 9110 PDF

Limfoma-Maligna

Sel ganas pada penyakit Hodgkin berasal dari sel retikulum. Limfosit yang merupakan bagian integral proliferasi sel pada penyakit ini diduga merupakan manifestasi reaksi kekebalan seluler terhadap sel ganas tersebut. Limfoma non Hodgkin pada dasarnya merupakan keganasan sel limfosit. Prognosis limfoma non Hodgkin lebih buruk, tapi sebagian dapat disembuhkan. Dengan semakin mendalam riset atas limfoma maligna, kini dalam hal klasifikasi jenis patologik, klasifikasi stadium, metode terapi, diagnosis dan penilaian atas lesi residif dan berbagai aspek lain limfoma telah mengalami kemajuan pesat, hal ini sangat membantu dalam meningkatkan ratio kesembuhan limfoma. Teori tentang fokal infeksi sangat erat hubungannya dengan bagian gigi, dimana akan mempengaruhi fungsi sistemik seseorang seperti sistem sirkulasi, skeletal dan sistem saraf. Hal ini disebabkan oleh penyebaran mikroorganisme atau toksin yang dapat berasal dari gigi, akar gigi, atau gusi yang terinfeksi.

THE MADMAN BY CHINUA ACHEBE PDF

Intake makan dan minum menurun, mual, muntah 2. Data Obyektif a. Timbul benjolan yang kenyal, mudah digerakkan pada leher, ketiak atau pangkal paha b. Wajah pucat 1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi dan malnutrisi 2. Hipertermi berhubungan dengan tak efektifnya termoregulasi sekunder terhadap inflamasi 3.

CHRISTIAN DRESS AND ADORNMENT BY SAMUELE BACCHIOCCHI PDF

Associated with a primary immune disorder Associated with the human immunodeficiency virus HIV Post-transplant Associated with methotrexate therapy Primary central nervous system lymphoma occurs most often in immunocompromised patients, in particular those with AIDS, but it can occur in the immunocompetent, as well. It has a poor prognosis, particularly in those with AIDS. Treatment can consist of corticosteroids , radiotherapy , and chemotherapy , often with methotrexate. The Working Formulation of was a classification of non-Hodgkin lymphoma. It excluded the Hodgkin lymphomas and divided the remaining lymphomas into four grades low, intermediate, high, and miscellaneous related to prognosis, with some further subdivisions based on the size and shape of affected cells. This purely histological classification included no information about cell surface markers , or genetics, and it made no distinction between T-cell lymphomas and B-cell lymphomas. It was widely accepted at the time of its publication, but is now obsolete.

IEC 60062 PDF

Pada limfoma non-Hodgkin, dapat tumbuh pada kelompok kelenjar getah bening lain misalnya pada traktus digestivus atau pada organ-organ parenkim. Klasifikasi Dua kategori besar limfoma dilakukan atas dasar histopatologi mikroskopik dari kelenjar getah bening yang terlibat yaitu: 2. Klisifikasi limfoma non-hodgkin berada dalam keadaan transisi. Klisifikasi rappaport yang digunakan secara luas diperkenalkan pada tahun didasarkan pada sitologi dan susunan arsitektur limfosit maligna dalam kelenjar limfe.

Related Articles